RumahGurita adalah film hantu Indonesia tahun 2014. Film ini dibintangi oleh Shandy Aulia, Boy William, Kemal Palevi, dan Maria Sabta. Film ini diangkat dari salah satu urban legend Rumah Gurita yang berada di Bandung. Gala premiere film ini pada 25 Oktober 2014, sedangkan mulai tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 30 Oktober 2014, pada
Tu7uhRumah Produksi mengumumkan siap memproduksi film ketiganya yang bergenre horor dan mengangkat cerita tentang pesugihan. (Dok. Tu7uh Rumah Produksi) JAKARTA, Tu7uh Rumah Produksi telah menyiapkan film ketiganya setelah 2 Batas Waktu dan Keira. Film ketiga ini kabarnya akan mengusung genre horor dengan cerita tentang pesugihan.
Rumahdijual Dijual Rumah Cocok Invest Produksi Film @Cirendeu, Ciputat Tanggerang dengan interior tak berperabot, dengan 5 Kamar Tidur, harga Rp 16 M di Jl. Puri CIrendeu Tanggerang Selatan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten ïž Lihat detail lengkap, foto, lokasi & fasilitas.
DeskripsiProduk: Dijual Rumah Impian 2 Lantai Harga 1 Lantai View Kota Bandung, Bebas Banjir, dekat Tol Cileunyi & Cisumdawu. Selling Point: 1km kejalan raya 5 menit ke Griya dan Borma Cinunuk 10 menit ke RS AMC 10 menit ke Jatinangor Town Square/ Jatos 5 menit ke SMPN 1 Cileunyi 10 menit ke Terminal dan Tol Cileunyi. Luas tanah Mulai 60 -90
PunyaRumah Produksi, SMKN 5 Bandung Siap Buat Film. 18 Januari 2022 18 Januari 2022 oleh Iskandar-6 Indonesia Investasi di Bidang Pendidikan dan Penelitian - 1 Januari 1970; 3 Pertimbangan 1 Maret Hari Penegakan Kedaulatan Negara - 1 Januari 1970; Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 5 Bandung meresmikan rumah produksi untuk kompetensi
Vay Tiá»n TráșŁ GĂłp Theo ThĂĄng Chá» Cáș§n Cmnd Há» Trợ Nợ Xáș„u. ï»żFilm ini selain melibatkan pemain lokal juga akan didukung oleh artis Putri AyundiaPekalongan ANTARA - Rumah Produksi Aksa Bumi Langit Bandung, Jawa Barat, menggarap film berjudul Alang-Alang di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, dengan melibatkan 65 persen kru dan pemain dari warga setempat. Line Producer Film Alang-Alang Theo Dora Subakti di Pekalongan, Rabu, mengatakan bahwa pada film ini disutradarai sekaligus penulis cerita Khusnul Khitam yang merupakan putra daerah asal Kradenan, Kota Pekalongan. "Film ini selain melibatkan pemain lokal juga akan didukung oleh artis Putri Ayundia. Proses film layar lebar ini akan diambil di wilayah Kota Pekalongan," katanya. Menurut dia, sebelum proses syuting yang dilaksanakan pada Rabu 10/3 di sejumlah lokasi juga akan dilakukan proses selamatan secara sederhana dan terbatas sekaligus silaturahim kepada Pemerintah Kota Pekalongan, serta komunitas pegiat seni dan budaya dalam mendukung dan menyambut kelancaran proses syuting film "Alang-Alang". Baca juga "The Boy with Moving Image", sebuah kegelisahan dari sineas muda "Kami datang ke sini sekaligus silaturahim, untuk proses syuting pertama yang mengambil lokasi di daerah ini mulai dilakukan Rabu ini," katanya. Theo mengatakan proses syuting film berjudul "Alang-Alang" ini akan berlangsung selama 19 hari yaitu mulai 10 Maret 2021 hingga 28 Maret 2021. Rumah Produksi Aksa Bumi, kata dia, menargetkan rilis film tersebut pada akhir tahun 2021 atau awal tahun 2022 yang akan bisa dinikmati oleh penggemar film-film di Indonesia. Baca juga Sutradara Bayu Skak temui Wawali Surabaya jelang syuting film Lara Ati "Film Alang-Alang mengangkat tema perjuangan hidup seorang anak kecil yang menghadapi kerasnya kehidupan dan bagaimana dia tidak punya pilihan sehingga terkadang harus melakukan beberapa hal yang tak terduga," katanya. Sutradara Film Alang-Alang Khusnul Khitam mengatakan penulisan naskah film ini sudah dilakukan sejak 2006 sebagai karya produksi dokumenter Alang-Alang, kemudian pada 2010 ini kembali menuliskan cerita fiksinya pada tahun 2010. "Film berdurasi sekitar 90 menit ini mengisahkan tentang kisah kehidupan seorang anak yang tidak semestinya yaitu kehidupan anak-anak yang seharusnya di rumah dengan lingkungan yang positif tetapi terkadang tidak menemukan itu. Mereka tidak menemukan kasih sayang dan perlindungan maupun rasa aman di rumah sehingga ia mencoba keluar dari rumahnya untuk mencari harapan baru di luar sana," katanya. Baca juga Butet berharap seniman kembali produktif setelah vaksinasi COVID-19Pewarta KutnadiEditor Agus Salim COPYRIGHT © ANTARA 2021
1. Universal Studios Negara Amerika Serikat Universal Studios merupakan perusahaan film Amerika Serikat, yang didirikan sekitar tahun 1912 oleh Carl Laemmle. Perusahaan ini berlokasi di San Fernando Valley, Los Angeles, California, AS, dan memproduksi beberapa film unggulan. Beberapa film diproduksi oleh sutradara Steven Spielberg dengan asisten Melinda Gates. Saat ini, Universal Studios merupakan bagian dari Comcast. 2. Paramount Pictures Negara Amerika Serikat Paramount Pictures Corporation adalah perusahaan produsen dan distributor film Amerika Serikat yang bermarkas di Hollywood, California. Perusahaan ini adalah perusahaan studio film tertua Amerika Serikat yang masih bertahan. Paramount dimiliki oleh konglomerat media Viacom. 3. DC Comics Negara Amerika Serikat DC Comics awal berdiri National Allied Publications pada tahun 1934[1] adalah sebuah perusahaan komik dan perusahaan terkait yang terbesar di Amerika, bersama dengan Marvel Comics. Sebuah anak perusahaan dari Warner Bros. Entertainment sejak 1969, [2] DC Comics menerbitkan sejumlah besar tokoh-tokoh terkenal seperti Superman, Batman, Wonder Woman, Flash, Green Lantern dan the Justice League of America. 4. Warner Bros Negara Amerika Serikat Warner Bros. Entertainment, Inc. dikenal juga sebagai Warner Bros. Pictures, Warner Bros., bentuk formalnya Warner Brothers adalah salah satu produser film dan televisi terbesar di dunia. Sekarang merupakan anak perusahaan dari grup Time Warner yang bermarkas di Burbank, California, Amerika Serikat. Warner Bros. juga memiliki sejumlah anak perusahaan, termasuk Warner Bros. Studios, Warner Bros. Pictures, Warner Bros. Television, Warner Bros. Animation, Warner Home Video, dan DC Comics, serta memiliki separuh saham jaringan televisi The CW. Didirikan pada tahun 1918, Warner Bros. adalah studio film Amerika ketiga tertua yang masih beroperasi, setelah Paramount Pictures yang didirikan pada tahun 1912 di bawah nama Famous Players, dan Universal Studios yang juga didirikan pada tahun 1912. 5. Sony Negara Jepang Sony adalah perusahaan elektronik yang berpusat di Tokyo, Jepang. Sekarang, Sony merupakan produsen elektronik terbesar di dunia, dan salah satu perusahaan terbesar di Jepang dan dunia. Perusahaan Sony diperdagangkan di Bursa Saham Tokyo dengan nomor 6758 dan Bursa Saham New York sebagai SNE melalui ADR. 6. Sony Pictures Entertainment Negara Amerika Serikat Sony Pictures Entertainment SPE, Sony Pictures Entertainment Inc. adalah sebuah produsen film dan acara televisi yang merupakan bagian dari Sony. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1989 oleh The Coca-Cola Company di Amerika Serikat dengan nama Columbia Pictures Entertainment. Pada tahun 1991, setelah diperoleh Sony Corporation, diganti namanya sebagai Sony Pictures Entertainment Inc. Sony telah menciptakan banyak film lainnya produksi dan distribusi unit, seperti pembuatan Sony Pictures Classics untuk tarif rumah seni, dengan membentuk Columbia TriStar Pictures menggabungkan Columbia Pictures dan TriStar Pictures pada tahun 1998, revitalisasi Columbia Pictures TV, mantan divisi Screen Gems. Pada tahun 2007, Sony dan Warner Brothers membeli FremantleMedia. 7. HBO Home Box Office Negara Amerika Serikat HBO Home Box Office adalah stasiun televisi Amerika Serikat yang dimiliki oleh Time Warner. Programnya ditayangkan 24 jam sehari kepada lebih dari 40 juta pelanggan tanpa selingan iklan. Selain itu berbagai produknya juga dipasarkan ke lebih dari 150 negara. Pada 1965, Charles Dolan mendapat izin untuk mendirikan sistem televisi kabel di Manhattan. Sistem ini dinamai Sterling Manhattan Cable dan dengan dukungan Time Life, Inc. meluncurkan Green Channel yang kemudian diubah namanya menjadi Home Box Office pada 8 November 1972. Tayangan perdana HBO adalah pertandingan langsung antara New York Rangers dan Vancouver Canucks, dilanjutkan dengan film Sometimes a Great Notion. Pada 28 Desember 1981, HBO mulai menayangkan acara televisi 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Pada 1983, mereka mulai memproduksi film sendiri dengan The Terry Fox Story. Saat ini berbagai film seri produksi HBO ditayangkan oleh stasiun televisi non-kabel di luar AS, misalnya Sex and the City, The Sopranos, dan Six Feet Under. 8. Metro-Goldwyn-Mayer Negara Amerika Serikat Metro-Goldwyn-Mayer Inc., atau MGM merupakan sebuah perusahaan multinasional yang menghasilkan berbagai macam produk film. Bermarkas di Los Angeles, California, Amerika Serikat. Didirikan pada tanggal 16 April 1924. Perusahaan ini mempekerjakan karyawannya hingga tahun 2004. 9. Marvel Comics Negara Amerika Serikat Marvel Comics atau Marvel Worldwide Inc. sebelumnya Marvel Publishing Inc. dan Marvel Comics Group adalah nama suatu perusahaan dari Amerika Serikat yang memproduksi buku komik dan media lain yang berkaitan. Marvel pertama kali didirikan dengan nama "Timely Publications" pada tahun 1939 dan sempat berganti nama menjadi "Atlas Comics" sebelum akhirnya menjadi Marvel Comics pada tahun 1961. Sekarang, Marvel telah menjadi salah satu penerbit buku komik terbesar bersama dengan perusahaan saingan lamanya DC Comics. Marvel terkenal karena telah mengorbitkan karakter-karakter komik populer seperti Captain America, Spider-Man, Iron Man, Hulk, Thor, Black Widow, Doctor Strange, Daredevil, Wolverine dan Ant-Man dan tim seperti Avengers, Guardians of the Galaxy, Fantastic Four, dan X-Men, dan antagonis seperti Doctor Doom, Red Skull, Green Goblin, Ultron, Doctor Octopus, Magneto, Venom dan Loki. Sebagian besar karakter ciptaan Marvel beroperasi dalam dunia yang dikenal sebagai Marvel Universe. Belakangan, banyak dari karakter Marvel tersebut yang muncul dalam media hiburan lain seperti serial kartun, film, dan permainan video. Marvel juga memiliki situs wikinya sendiri. Situs tersebut diluncurkan pada tahun 2006 dan memuat berbagai informasi dalam jagad Marvel. Pada tahun 2009, The Walt Disney Company menyatakan sepakat untuk membeli Marvel Entertainment sebesar USD 4 miliar adalam transaksi saham dan uang tunai. Dengan demikian, perusahaan pencipta Mickey Mouse dan Snow White itu berhak atas karakter komik termasuk "Spider-Man," "Iron Man" dan "X-Men". Kesepakatan tersebut akan memberi Disney kepemilikan lebih dari karakter tokoh Marvel Entertainment. Para Superhero tersebut akan tersedia dalam segala bentuk barang dagangan dan pernak-pernik keren sebagai usaha dari Disney untuk menarik minat anak laki-laki untuk membelinya, seperti yang dikutip Reuters. 10. The Walt Disney Company Negara Amerika Serikat The Walt Disney Company NYSE DIS atau lebih dikenal dengan nama Disney adalah perusahaan konglomerat di bidang hiburan dan media terbesar di dunia. Didirikan pada 16 Oktober 1923, perusahaan ini didirikan oleh Walt Disney dan Roy Oliver Disney dengan nama Disney Brothers Cartoon Studio. Pusatnya terletak di Burbank, California. Laba Disney pada 2004 adalah sebesar $30,8 miliar USD dan merupakan komponen Dow Jones Industrial Average. Perusahaan ini dikenal sebagai Walt Disney Productions, Ltd. sampai 6 Februari 1986 dan kemudian diubah menjadi namanya sekarang. 11. DreamWorks Negara Amerika Serikat DreamWorks Pictures dikenal juga sebagai DreamWorks SKG atau DreamWorks Studios, sering disebut sebagai DreamWorks, perdagangan sebagaiStoryteller Distribution Co., LLC adalah perusahaan pembuat film utama di Amerika Serikat, yang membuat, menghasilkan dan memasarkan film-film, video permainan dan program-program televisi. Mereka telah menghasilkan ataupun memasarkan tidak kurang dari sepuluh buah film dengan pendapatan kotor dari film-film yang mencapai "box-office" sebesar US$ 100 juta per filmnya. Filmnya yang paling sukses baru-baru ini adalah Shrek 2. Perusahaan ini mulai didirikan pada tahun 1994 sebagai wadah untuk menuangkan ide-ide terbaik dari pakar media, Steven Spielberg, Jeffrey Katzenberg, dan David Geffen Inisial dari ketiga pendiri itu, yaitu S dari Spielberg, K dari Katzenberg dan G dari Geffen membentuk tulisan SKG yang tampak pada bagian bawah dari logo perusahaan ini untuk membuat sebuah studio Hollywood yang baru. Baru kemudian di bulan Desember 2005, ketiga pendiri tersebut setuju untuk menjualnya ke Viacom, perusahaan induk dari Paramount Pictures. Proses penjualan ini dapat diselesaikan pada bulan Februari 2006. Salah satu bagian dari perusahaan ini yang membidangi animasi telah dipisahkan dari perusahaan induknya pada tahun 2004, menjadi DreamWorks Animation SKG. Film-filmnya diedarkan Paramount Pictures, namun bagian animasi tetap merupakan bagian yang terpisah baik dari Paramount Pictures maupun Viacom. Pada tahun 2008, DreamWorks memutus kemitraan dari Paramount dan membayar US$ biliun untuk produksi film dari Reliance ADA Group[3], namun setahun kemudian bekerja sama lagi kepada Paramount. Pada tanggal 9 Februari 2009, DreamWorks dan Paramount memasuki 6 tahun, 30 produksi film oleh The Walt Disney Company, yang memegang DreamWorks sebanyak 50%. 12. Pixar Animation Studios Negara Amerika Serikat Pixar Animation Studios, atau hanya Pixar, distilasi sebagai PIXAR adalah sebuah studio animasi komputer Amerika Serikat yang berpusat di Emeryville, California. Studio ini terkenal karena CGI-film animasi yang dibuat dengan PhotoRealistic RenderMan, implementasi sendiri dari industri RenderManimage-rendering antarmuka pemrograman aplikasi yang digunakan untuk menghasilkan gambar berkualitas tinggi. Pixar dimulai pada tahun 1979 sebagai Graphics Grup, bagian dari divisi komputer Lucasfilmsebelum nya keluar sebagai sebuah perusahaan pada tahun 1986 yang dibiayai oleh Apple Inc. bersama salah seorang pendiri Steve Jobs, yang menjadi pemegang saham mayoritas. The Walt Disney Company membeli Pixar pada tahun 2006 pada dengan $ milyar, transaksi yang dilakukan pemegang saham terbesar Jobs Disney. Sumber Rumah Produksi Film Terbaik di Dunia Gila nih, Amerika punya 11 dari 12 yang terbaik industri Perfileman Amerika memang sangat maju, semoga saja Indonesia mau belajar dari Amerika ya gan
Film dibuat oleh rumah produksi, yang membiayai proses pembuatannya, sekaligus membayar para pekerja yang terlibat. Ada kalanya, rumah produksi hanya menghasilkan film, sementara distributornya diambil alih oleh pihak lain. Namun, banyak pula rumah produksi yang tidak hanya menghasilkan film, tapi juga mendistribusikannya sendiri. Jenis yang kedua umumnya rumah produksi yang ini adalah 12 rumah produksi film terbaik sekaligus terbesar di dunia, yang selama ini telah menghasilkan banyak film yang pernah kita Universal StudiosUniversal Studios merupakan perusahaan film Amerika Serikat, yang didirikan sekitar tahun 1912 oleh Carl Laemmle. Perusahaan ini berlokasi di San Fernando Valley, Los Angeles, California, AS, dan memproduksi banyak film unggulan. Saat ini, Universal Studios merupakan bagian dari Comcast. 2. Paramount PicturesParamount Pictures Corporation adalah perusahaan produsen dan distributor film Amerika Serikat yang bermarkas di Hollywood, California. Perusahaan ini adalah studio film tertua di Amerika Serikat yang masih bertahan. Paramount dimiliki oleh konglomerat media DC ComicsDC Comics adalah perusahaan komik terbesar di Amerika, bersama dengan Marvel Comics. Pada awal berdirinya, pada 1934, DC Comics bernama National Allied Publications. Sejak 1969, DC Comics menjadi anak perusahaan dari Warner Bros Entertainment. DC Comics menerbitkan sejumlah besar tokoh terkenal, seperti Superman, Batman, Wonder Woman, Flash, Green Lantern, dan the Justice League of America. 4. Warner BrosWarner Bros Entertainment, Inc. dikenal juga sebagai Warner Bros Pictures atau Warner Brothers adalah salah satu produsen film dan televisi terbesar di dunia. Sekarang merupakan anak perusahaan grup Time Warner yang bermarkas di Burbank, California, Amerika Bros juga memiliki sejumlah anak perusahaan, termasuk Warner Bros Studios, Warner Bros Pictures, Warner Bros Television, Warner Bros Animation, Warner Home Video, dan DC Comics, serta memiliki separuh saham jaringan televisi The SonySony adalah perusahaan elektronik yang berpusat di Tokyo, Jepang. Sekarang, Sony merupakan produsen elektronik terbesar di dunia, dan salah satu perusahaan terbesar di Jepang dan Sony diperdagangkan di Bursa Saham Tokyo, dengan nomor 6758 dan di Bursa Saham New York sebagai SNE melalui Sony Pictures EntertainmentSony Pictures Entertainment SPE, Sony Pictures Entertainment Inc. adalah produsen film dan acara televisi yang merupakan bagian dari Sony. Perusahaan ini didirikan pada 1989 oleh The Coca-Cola Company di Amerika Serikat, dengan nama Columbia Pictures Entertainment. Pada 1991, setelah diperoleh Sony Corporation, diganti namanya menjadi Sony Pictures Entertainment telah menciptakan banyak film dan distribusi unit, seperti pembuatan Sony Pictures Classics untuk rumah seni, dengan membentuk Columbia TriStar Pictures yang menggabungkan Columbia Pictures dan TriStar Pictures pada 1998. Pada 2007, Sony dan Warner Brothers membeli HBO Home Box OfficeHBO Home Box Office adalah stasiun televisi Amerika Serikat yang dimiliki oleh Time Warner. Programnya ditayangkan 24 jam sehari kepada lebih dari 40 juta pelanggan, tanpa selingan iklan. Selain itu, berbagai produknya juga dipasarkan ke lebih dari 150 1965, Charles Dolan mendapat izin untuk mendirikan sistem televisi kabel di Manhattan. Sistem ini dinamai Sterling Manhattan Cable, dan dengan dukungan Time Life, Inc. meluncurkan Green Channel yang kemudian diubah namanya menjadi Home Box Office pada 8 November 1972. Tayangan perdana HBO adalah pertandingan langsung antara New York Rangers dan Vancouver Canucks, dilanjutkan dengan film Sometimes a Great Metro-Goldwyn-MayerMetro-Goldwyn-Mayer Inc., atau MGM, merupakan perusahaan multinasional yang menghasilkan berbagai macam produk film. Bermarkas di Los Angeles, California, Amerika Serikat. Didirikan pada tanggal 16 April 1924, perusahaan ini mempekerjakan karyawannya hingga tahun Marvel ComicsMarvel Comics atau Marvel Worldwide Inc. sebelumnya Marvel Publishing Inc. dan Marvel Comics Group adalah perusahaan dari Amerika Serikat yang memproduksi buku komik dan media lain yang berkaitan. Marvel pertama kali didirikan dengan nama "Timely Publications" pada 1939, dan sempat berganti nama menjadi "Atlas Comics" sebelum akhirnya menjadi Marvel Comics pada 1961. Sekarang, Marvel telah menjadi salah satu penerbit buku komik terbesar, bersama perusahaan saingan lamanya, DC The Walt Disney CompanyThe Walt Disney Company NYSE DIS, atau lebih dikenal dengan nama Disney, adalah perusahaan konglomerat di bidang hiburan dan media terbesar di dunia. Didirikan pada 16 Oktober 1923, perusahaan ini didirikan oleh Walt Disney dan Roy Oliver Disney, dengan nama Disney Brothers Cartoon Studio. Pusatnya terletak di Burbank, Disney pada 2004 adalah sebesar $30,8 miliar USD, dan merupakan komponen Dow Jones Industrial Average. Perusahaan ini dikenal sebagai Walt Disney Productions, Ltd. sampai 6 Februari 1986, dan kemudian diubah menjadi nama yang DreamWorksDreamWorks Pictures dikenal juga sebagai DreamWorks SKG atau DreamWorks Studios, sering disebut sebagai DreamWorks adalah perusahaan pembuat film utama di Amerika Serikat, yang membuat, menghasilkan dan memasarkan film-film, video permainan, dan program-program televisi. Mereka telah menghasilkan ataupun memasarkan banyak film dengan pendapatan kotor dari film-film yang mencapai "box-office" sebesar US$ 100 juta per film. 12. Pixar Animation StudiosPixar Animation Studios, atau hanya Pixar, distilasi sebagai PIXAR adalah studio animasi komputer Amerika Serikat yang berpusat di Emeryville, California. Studio ini terkenal karena CGI-film animasi yang dibuat dengan PhotoRealistic RenderMan, implementasi dari industri RenderManimage-rendering, antarmuka pemrograman aplikasi yang digunakan untuk menghasilkan gambar berkualitas tinggi. Pixar dimulai pada tahun 1979 sebagai Graphics Grup, bagian dari divisi komputer Lucasfilm. Pixar muncul sebagai perusahaan pada 1986, yang dibiayai oleh Apple Inc. bersama seorang pendiri, Steve Jobs, yang menjadi pemegang saham mayoritas. The Walt Disney Company membeli Pixar pada tahun 2006, dengan jumlah $7,4 milyar.
Selain dikenal sebagai kota kuliner, nyatanya Bandung memiliki berbagai spot menarik yang tak dapat Anda temui di tempat lain. Bahkan, banyak rumah produksi film yang menjadikan Bandung sebagai latar tempat untuk pengambilan dari sekolah hingga Art Gallery, tempat-tempat ini bahkan menjadi destinasi wisata baru para pelancong saat berkunjung ke Kota Bandung. Penasaran dimana saja tempat syuting tersebut? Yuk Intip artikelnya di bawah ini!NuArt Sculpture Park PosesifFilm yang mendulang banyak prestasi pada Piala Citra 2017 ini sebetulnya memiliki 2 tempat utama di Bandung, yakni di kolam renang Universitas Pendidikan Indonesia dan juga NuArt Sculpture Park. Galeri seni ini berlokasi di Jalan Setra Duta Raya no. L6, beragam karya seni mulai dari lukisan hingga patung berukuran besar, galeri seni ini dapat memanjakan mata Anda. Terlebih banyak pepohonan yang membuat suasana terasa begitu sejuk. NuArt Sculpture Park ini dimiliki oleh seniman terkenal I Nyoman Nuarta, karya terkenal lainnya adalah patung Garuda Wisnu Kencana di Uluwatu, Putih My HeartMelipir sedikit dari tengah Kota Bandung tepatnya ke daerah Ciwidey, terdapat tempat wisata alam yang memiliki bentuk teramat indah. Apalagi kalau bukan kawah putih. Terletak di kaki Gunung Patuha, kawah putih merupakan danau yang terbentuk karena letusan Gunung My Heart yang tayang pada 2006 silam mengambil salah satu adegan ikoniknya di sini. Yakni ketika Rachel berlari dan terperosok jatuh setelah melihat Farel dan Rumah Tua Ibu Pengabdi SetanTak terlalu jauh dari Ciwidey, Anda dapat mengunjungi rumah ikonik bekas tempat syuting Pengabdi Setan di daerah Pangalengan. Tepatnya di Perkebunan Teh Kertamanah, Pangalengan, Bandung. Rumah ini mendadak jadi tempat wisata yang tak membuat kantong Anda rumah ini merupakan bangunan khas masyarakat kolonial Belanda. Terdapat kesan vintage yang begitu kuat, terlebih ditambah dengan ornamen wallpaper yang begitu khas. Namun, kesan indah akan tergantikan perasaan merinding setelah Anda mengingat scene apa saja yang terjadi di sana.
Menelusuri Ketakterhubungan dan Ketaksinambungan dalam Komunitas Film BandungGorivana AgezaWaktu menunjukkan pukul dan Kedai Cas kian disesaki pengunjung. Santos-Bandung Film Festival SBFF memasuki sesi terakhir dalam rangkaian acaranya yang berlangsung selama 20-22 Oktober 2017. SBFF adalah festival yang diinisiasi oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation UNESCO dengan mempertemukan Santos Brazil sebagai kota film dan Bandung sebagai kota desain untuk melakukan kolaborasi pemutaran dengan saling bertukar film asal kota masing-masing. Kedai Cas menjadi lokasi terakhir penyelenggaraan SBFF, setelah sesi-sesi pemutaran sebelumnya dilakukan di tiga tempat Cas sendiri merupakan kedai kopi milik dua sineas Bandung yang terletak di gang seputaran Jalan Dipati Ukur. Bermula dari kerja sama program antara Kedai Cas dengan beberapa pegiat dari Bandung Film Council BFC, lahirlah pemutaran film pendek bertajuk Nonton Film di Gang pada pertengahan 2016. Nonton Film di Gang secara rutin diadakan setiap bulan. Dalam waktu kurang dari satu setengah tahun, Kedai Cas menjelma menjadi tempat nongkrong anak komunitas film Bandung, dan tidak terbatas pada saat gelaran Nonton Film di Gang itu, 22 Oktober 2017, semua orang berbaur di Kedai Cas. Bagi pegiat komunitas film Bandung, SBFF adalah momen penting. Festival ini berhasil menjembatani dan menggandeng berbagai pihak yang cenderung hanya berkutat di lingkaran masing-masing. Momen itu menunjukkan bagaimana sesuatu yang berbeda dan berasal dari kejauhan, seperti film-film Santos, tidak hanya menyatukan para pegiat, melainkan juga membantu komunitas Bandung menyadari dan memahami dirinya sendiri. Sayangnya, keterhubungan di kalangan komunitas film di Bandung masih jauh panggang dari Pemutaran, Ruang PertemuanBersamaan dengan berhentinya program Nonton Film di Gang pada 2018, âkemesraanâ para pegiat antarkomunitas perlahan luntur. Deden M. Sahid, salah satu sineas yang menginisiasi Nonton Film di Gang meyakini bahwa keberadaan ruang fisik amat signifikan dalam berkomunitas di Bandung. Pandangan serupa diungkapkan oleh Roufy Nasution, seorang sineas Bandung yang karyanya relatif berpengaruh bagi pembuat film dari generasi lebih muda. Ia mengatakan bahwa ada kalanya ia membanggakan era Kedai Cas bak sebuah kisah dalam satu dekade terakhir jumlah ruang pemutaran-diskusi seperti Kedai Cas, dan komunitas ekshibisi di skena komunitas Bandung jauh lebih sedikit ketimbang komunitas produksi. Kesenjangan ini berkaitan dengan situasi skena film Bandung yang didominasi oleh komunitas berbasis kampusâbaik berupa program studi maupun unit kegiatan mahasiswa UKM filmâyang mayoritas berkutat di ranah produksi. Sementara itu, kegiatan ekshibisi cenderung dikelola oleh komunitas non-kampus, contohnya bukan berarti komunitas berbasis kampus sama sekali tidak melakukan pemutaran film dan apresiasi. Komunitas berbasis kampus yang berfokus hanya pada aktivitas non-produksi, seperti Sinesofia Fakultas Filsafat Universitas Parahyangan, menjadi semacam anomali. Serupa dengan Sinesofia, Liga Film Mahasiswa LFM ITB adalah contoh lain dari komunitas berbasis kampus yang beraktivitas di semua lini perfilman, mulai dari produksi hingga apresiasi dan kajian. Indicinema BandungObrolan Minggu 1 Perempuan dan DirinyaKomunitas ekshibisi sendiri di Bandung dapat dibedakan berdasarkan film-film yang diputarkannya. Pertama, ekshibisi yang berfokus pada film-film lokal Bandung. Sebagai contoh, Ruang Film Bandung lewat program Klinik Film dan pemutaran bulanan Cinemora Open House oleh Cinemora. Berdasarkan penuturan Roufy dari Cinemora, ekshibisi seperti ini umumnya bertujuan untuk memberikan ruang pada pembuat film pemula untuk mempertontonkan karyanya, tanpa perlu dibebani oleh kualitas dan pencapaian ekshibisi dengan programasi film-film alternatif, seperti yang dilakukan oleh komunitas Bahasinema dan Indicinema. Ekshibisi dengan corak seperti ini cenderung lebih berfokus pada aspek wacana dan kuratorial sehingga asal muasal pembuat film tidak menjadi soal. Ketiga, ekshibisi yang memutarkan film-film panjang. Sebagai contoh, Komunitas Layar Kita. Sepekan dua kali, secara rutin Layar Kita memutarkan dan mendiskusikan film-film panjang terutama film-film klasik, yang didominasi oleh film luar dari keragamannya, salah satu persamaan dan hambatan mendasar di antara komunitas-komunitas ekshibisi ini adalah mayoritas tidak memiliki ruangan pemutaran sendiri. Komunitas-komunitas ini perlu bekerja samaâdapat juga diartikan dengan âbergantungââdengan pihak lain yang memiliki ruangan pemutaran. Misalnya, museum milik pemerintah, lembaga kebudayaan asing, galeri seni, resto dan jumlah komunitas ekshibisi dan ruangan pemutaran menimbulkan keresahan. Kesenjangan antara jumlah produksi film dengan ruang pemutaran berdampak pada keterputusan antara film dengan calon penontonnya. Alhasil, komunitas produksi lokal kesulitan mendistribusikan situasi ini lantas berkenaan dua hal. Pertama, pegiat komunitas, terutama komunitas produksi, cenderung menaruh perhatian lebih pada siapa yang membuat film. Kedua, penonton memiliki kecenderungan untuk lebih memedulikan film sendiri ketimbang siapa pembuatnya. Poin yang terakhir ini dapat dibandingkan dengan hasil pengamatan Roufy pada penonton Sinerame. Sinerame adalah program kerjasama antara Ruang Film Bandung, Co&Co, Cinemora dan sejumlah pihak lainnya, dengan Roufy sebagai juru program. Dalam dua kali gelaran Sinerame, mayoritas penonton dari pemutaran ini berasal dari kalangan umum yang cenderung memusatkan ketertarikan hanya pada dengan Roufy, mantan direktur program Ganesha Film Festival 2018 dan programmer Indicinema, Damar Bagaskoro mencontohkan pemutaran film âTak Ada yang Gila di Kota Iniâ karya Wregas Bhanuteja di Indicinema pada awal 2020. Tiket pemutaran untuk ruangan berkapasitas 50 penonton ludes. Saat itu mayoritas penonton justru berasal dari kalangan umum non-komunitas. Mereka mengetahui film pendek tersebut melalui ulasan media masyhur berbasis daring. Contoh lain, film âKucumbu Tubuh Indahkuâ karya Garin Nugroho menjadi film dengan jumlah penonton terbanyak sepanjang Indicinema berdiri. Penonton umum mengetahui film tersebut lewat kontroversi yang diangkat oleh produksi lantas kebingungan mendistribusikan filmnya. Beberapa memilih untuk membuat pemutaran mandiri tanpa bermitra dengan komunitas ekshibisi. Dalam banyak kesempatan, inisiatif itu hanya dinikmati warga komunitasnya sendiri. Di sisi lain, belum banyak penonton umum yang familiar dengan pemutaran film-film alternatif oleh komunitasKondisi ini tentu agak disayangkan. Lewat penonton yang lebih beragam, pegiat komunitas produksi dapat pula bertemu bermacam penilaian penonton dan umpan balik. Dengan menonton karya-karya komunitas lain, suatu komunitas dapat memperoleh perspektif baru dan referensi dalam berkarya. Pertukaran dan perluasan gagasan dimungkinkan. Sebaliknya, publikâtermasuk yang belum familiar dengan pemutaran alternatifâpun dapat bertemu dengan berbagai macam contoh kasus Sinerame dan Indicinema, pengalaman komunitas Bahasinema dapat pula dijadikan komparasi. Program-program pemutaran Bahasinema selalu bekerja sama dengan penyedia ruang yang berbeda. Dalam sesi diskusi di salah satu kafe populer di akhir tahun 2018, penonton-penonton yang mayoritas berasal dari segmen pengunjung kafe mengatakan pengalaman itu kali pertama mereka berkenalan dengan film-film pendek alternatif dan mereka Kristianto, programmer Jogja-NETPAC Asian Film Festival asal Bandung, berpendapat komunitas Bandung cenderung hanya âasyik sendiriâ dalam lingkarannya masing-masing. Mahfum bila sosok pegiat komunitas seperti Deden dan Roufy menyayangkan hilangnya Nonton Film di Gang, lantaran keterhubungan antarkomunitas meluntur seiring itu. Sebab, bersamaan dengan hadirnya ruang fisik dan momen, dimungkinkan pula terjalinnya keterhubungan dan kebersamaan. Sebs Cine ClubShooting Maybe Someday Another Day But Not TodayTak Ada Menara Gading yang Tak RetakJanuari 2022 lalu, Coffie Coordination for Film Festival in Indonesia memulai rangkaian diskusi publik yang mempertemukan penyelenggara berbagai festival di berbagai kota, dan Bandung menjadi kota pertama. Saat itu hadir empat narasumber yang mewakili empat penyelenggara festival di Bandung Ganesha Film Festival Ganffest ITB, Bandung Independent Film Festival BIFFâsebelum dikelola mandiri di luar kampus, BIFF awalnya festival film asal kampus Institut Seni Budaya Indonesia ISBIâ, Jatinangor Film Festival Universitas Padjajaran, dan International Photography and Short Movie Festival IPSM Universitas Telkom. Rupanya dari keempat narasumber hanya Adam yang merupakan pengelola BIFF yang pernah datang ke festival âtetanggaâ. Ia mengunjungi Ganesha Film Festival. Tiga pengelola sisanya hanya familiar saja dengan festival dari pandemi COVID-19 sejak Maret 2020, ada dua catatan dari diskusi daring itu. Pertama, festival film pada skena komunitas Bandung, sebagaimana komunitas produksi, juga berada pada institusi-institusi pendidikan tinggi. Kedua, pentingnya distribusi pengetahuan baik secara vertikal, yakni dalam komunitas yang sama dari senior ke juniorâseperti tugas âsafari festivalâ, maupun secara horizontal yakni antarkomunitas dan antarinstitusiKedua hal tersebut berkaitan dengan persoalan keberlangsungan dan sinergi antarkomunitas yang membentuk jejaring dan ekosistem skena film Bandung. Seperti yang sudah disebutkan pada bagian tulisan sebelumnya, skena Bandung didominasi oleh komunitas berbasis kampus, disertai tendensi keterpisahan dalam jejaring komunitas di Bandung. Kedua kondisi ini dapat lebih dipahami jika dikaitkan dengan kenyataan bahwa institusi pendidikan memiliki jaminan atas keberlangsungan komunitas sehingga secara kelembagaan komunitas-komunitas ini cenderung beroperasi sendiri-sendiri. Kendatipun ada kerja sama antarkomunitas, sebagian bersifat pendek dan hanya bagian kecil dalam satu acara, alih-alih kemitraan strategis jangka panjang. CinemoraShooting The Boy With Moving ImageLebih lanjut, komunitas produksi asal Bandung juga amat minim melakukan kerjasama dengan komunitas dari daerah lain. Seperti yang dikatakan Yustinus, kerjasama yang ada bersifat personal yang mana didasarkan pada portofolio individu. Sementara pada ranah ekshibisi, kerjasama komunitas Bandung dengan daerah lain mungkin bisa dihitung dengan ada empat âprivileseâ yang dimiliki komunitas berbasis kampus. Pertama, sistem pendanaan yang lebih stabil, yang selanjutnya dilengkapi dengan sistem manajerial pengelolaan komunitas dan mekanisme akuntabilitas. Kemudian, regenerasi pengurus dan anggota yang ajeg. Terakhir, potensi keberlanjutan aspek transfer pengetahuan yang lebih dimungkinkan. Melalui sistem regenerasi yang fungsional, transfer pengetahuan dapat diwujudkan, meski perlu digarisbawahi bahwa itu bukanlah pada komunitas non-kampus menanggung beban lebih berat karena tidak ada pembaharuan personil secara konstan berkala. Pengelolaan komunitas malah terlalu bertumpu pada personal yang kemudian menjadi sosok âabadiâ ketokohan dan patronasi. Sepintas gaya pengelolaan semacam ini âamanâ karena dibayangkan ada perencanaan dan pelaksanaan jangka panjang, ketimbang pergantian pengelola yang terjadi secara cepat di komunitas yang kadang terjadi adalah kegagalan di dua sisi. Perencanaan dan pengembangan jangka panjang tidak berjalan, serta tidak terbentuk sistem pengelolaan yang mapan. Ketika para patron tidak lagi terlampau aktif, komunitas menjadi mandek sementara pengetahuannya bahkan belum sempat didistribusikan. Pun ketika tokoh-tokoh ini tetap aktif, stabilitas rentan tergelincir menjadi stagnasi, bahkan kemunduran, karena nyaris tidak ada Deden, Yustinus, Roufy, Damar Bagaskoro, maupun Malikkul Saleh sekretaris jenderal Bandung Film Commission berpendapat bahwa secara general regenerasi komunitas di Bandung cenderung melempem. Kekhawatiran itu ditujukan pada belum adanya sosok pembuat film dan juru program generasi baru yang menonjol selama beberapa tahun terakhir. Pembaharuan personil tidak serta merta sama dengan kontinuitas perkembangan âoutputâ manusianya. Di skena Bandung, menurut Malikkul, secara general sulit ditemukan orang dengan kemampuan kuratorial yang mumpuni. Akhirnya banyak pemutaran yang kualitas programasinya setengah matang, dan berakhir menjadi kegiatan yang terjadwal ranah produksi, Roufy menandai kecenderungan pembuat film generasi baru justru mengekor karya-karya terdahulu yang sudah lebih dulu masyhur. Roufy melihat pula bagaimana setiap komunitas produksi sudah memiliki gayanya masing-masing yang kemudian diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga pembuat film sulit âmembebaskan diriâ dari pola tradisi tersebut. Konsekuensinya, minim karya-karya yang segar dan memiliki terobosan. Kecenderungan untuk hanya berkutat pada komunitas masing-masing, dan atensi hanya ditujukan pada ranah produksi saja adalah salah satu faktor utama dari situasi ini. Roufy mencontohkan bagaimana ia dulu justru bergabung dengan komunitas non-produksi di luar kampus demi menyaksikan beragam film dan belajar cara membacanya. Deden yang juga merupakan seorang dosen menambahkan bahwa pengetahuan yang diperoleh di bangku perkuliahan tidaklah cukup jika tidak disertai pengalaman riil belajar secara langsung âlapanganâ.Eksistensi dalam Dunia yang DiisolasiDari sebuah kotak dus muncullah seorang anak laki-laki. Seiring waktu ia mulai bertanya-tanya meratapi eksistensinya ââŠmengapa aku harus seperti mereka? ⊠aku mencari sesuatu yang tidak aku ketahuiâŠâ. Ia menyaksikan kehidupan manusia-manusia lain beserta segala konflik dan krisis eksistensialnya. Ia pun menghindari interaksi dengan mereka. Anak laki-laki ini lantas memilih berlari pulang âmeninggalkan duniaâ untuk kembali ke dalam penggalan adegan dalam film âWhispering Boxâ 2014 karya Irvan Aulia. Irvan Aulia adalah nama yang disebut-sebut oleh Yustinus dan Roufy sebagai salah satu sutradara muda yang karyanya memiliki kekhasan dan berdampak pada generasi selanjutnya, bersanding dengan Bihar Jafarian, Prama Yodha, Gilang Bayu Santoso, Gerry Fairus, Mustafa, dan Roufy sendiri. Kisah dalam film âWhispering Boxâ menjadi gambaran, sekaligus pula afirmasi, atas tendensi komunitas Bandung yang gemar berjibaku hanya pada âkardusâ baca lingkaran-nya untuk berkutat hanya pada lingkup hidup âmikroâ personal, domestik, cakupan kecil merembesi narasi-narasi dalam film komunitas Bandung. Kisah-kisah ini seperti mereka ulang kebiasaan hidup dalam âmenara gadingâ masing-masing komunitas sehingga berjarak dari kompleksitas kenyataan. Hal ini kemudian terwujud dalam isu yang diangkat dan digambarkan dalam film, dan bagaimana problematika itu disikapi dan diselesaikan oleh tokoh dalam Bagaskoro menambahkan bahwa film komunitas Bandung bercorak apolitis. Konflik yang hadir dalam narasinya seperti dicabut dari realitas dan absen konteks sosial. Pun ada kecenderungan untuk mengisolasinya dalam lingkup domestik, seakan-akan sama sekali tidak ada keterkaitan dengan dunia di umum ada penutup atau âsolusi yang memuaskanâ atas konflik diangkat oleh film. Situasi ini dapat terjadi karena keengganan untuk mendekati dan/ atau kegagalan pembuat film dalam memahami carut-marutnya realitas. Akibat kenyataan yang disimplifikasiâhanya melihat hal yang di permukaan dan familiarâ, maka persoalan seakan-akan dapat diselesaikan dengan cara yang mudah saja. Malikkul mengamini pendapat Damar yakni film-film Bandung cenderung belum memiliki kedalaman isu. Sementara Yustinus mengaitkannya dengan sejumlah karakteristik, yakni 1 gaya populer dan membicarakan hal-hal di permukaan; 2 kecenderungan narasi inspiratif motivasional dan sugar coating; 3 reproduksi nilai normatif arus tersebut, terutama dari Damar dan Yustinus kian menegaskan kecenderungan untuk mengedepankan aspek internal saya dan kelompok-saya. Seolah-olah kesulitan hidup yang dialami oleh seseorang hanya terkait dengan dirinya saja, dan individu bukanlah bagian dari dunia. Secara implisit hadir keyakinan bahwa merupakan tanggung jawab individu untuk mengembalikan kekacauan pada kondisi ideal. Persoalan dan âbencanaâ adalah konsekuensi âhukumanâ dari kegagalan individu. Narasi ideal inspiratif muncul seiring dengan âkesabaranâ tokoh melewati masalah, sambil tetap mempertahankan moralitasnya yang hitam-putih, alih-alih terkontaminasi kemuskilan realitas. Di titik iniâterutama jika kembali mengacu pada pendapat Yustinusâmenjadi kentara bahwa sekalipun diproduksi oleh komunitas, film alternatif Bandung cenderung tidak mengarah pada pembentukan wacana lanjut, tendensi untuk menghindari kompleksitas keadaan tidak hanya muncul dalam narasi filmnya, melainkan juga muncul dalam ruang-ruang pemutaran dan diskusinya. â⊠mereka tidak punya latar belakang programasi ekshibisi yang memadai, jadi mereka bikin pemutaran yang tanpa programasi ⊠baik itu yang dilakukan komunitas di dalam kampus maupun di luar kampus. ⊠lebih ngepop ⊠kurang serius ⊠mungkin itulah ciri khas Bandung. Bandung tuh gak mau mikir yang terlalu susah-susah, gak mau dalem-dalem mikirnya, jadi ya seru-seruan aja,â demikian Malikkul menjelaskan gaya ekshibisi di itu Roufy menjelaskan pendekatan yang ia ambil melalui Cinemora Open House sehingga pemutaran rutin bulanan yang baru dimulai tahun lalu ini hampir selalu penuh sesuai kapasitas maksimal penonton. Ketika di saat bersamaan, akibat pandemi, justru banyak ruang pemutaran yang non-aktif.â⊠itu selalu full aja, bayar tiket pun sepuluh ribu. Ketika aku buat screening itu memang ada perubahan ambience yang aku coba, gimana waktu diskusi itu jangan serius ⊠duduk bersila, ruangnya akrab banget, deket, kita sama penonton tuh deket karena saung. Jadi mereka merasa cair juga. âŠ. Filmnya serius tapi dibawa becanda .. aku rasa kultur di Bandung tuh bodor, jangan terlalu serius-serius banget. Kalo ada orang serius di Bandung kayanya malah dicengin ⊠Kayanya orang di sini gak bisa dibawa terlalu seriusâŠâdemikian penjelasan Roufy mengenai âresep suksesnyaâ. Lewat penuturan Malikkul dan Roufy, serta pendapat Deden dan Yustinus, secara tersirat ada anggapan yang bersifat dualistik, yakni antara sesuatu yang âseru dan ringan populerâ dengan sesuatu yang "serius, mikir dalem, dan rumitâ. Oposisi ini analog dengan gambaran yang ditunjukkan oleh film âWhispering Boxâ 4 GA ProductionShooting WordsDalam pengamatannya pada film-film pendek komunitas Bandung yang dirilis pada tahun 2019-2020, Damar mencatat ada empat corak cerita yang dominan 1 horor, 2 elemen imajiner yang menginterupsi realitas, 3 konflik domestik yang terisolasi, umumnya terkait figur paternalistik, 4 gaya absurd âRoufy-ismeâ dan para filmmaker yang terinspirasi olehnya.Dari catatan Damar tersebut, kisah tentang elemen imajiner yang menginterupsi realitas, pun isolasi konflik pada ruang domestik, seperti kembali mengafirmasi adanya pola untuk âmemalingkanâ diri dari kompleksitas kenyataan atau upaya pemberian solusi pintas. Sementara pola narasi yang berpusat pada figur paternalistik berkenaan dengan tidak hanya dengan tendensi mengawetkan moralitas normatif, melainkan juga mengisyaratkan corak film âLoperâ 2013 karya alm Dendie Archenius dikisahkan ada seorang suami yang tanpa sengaja menerima koran âajaibâ dari masa depan. Dalam surat kabar itu termuat berita bahwa akan terjadi malapetaka di rumahnya, dan ia menjadi korbannya. Alih-alih melarikan diri ke luar rumah, ia justru semakin mengurung diri di rumah dan berwaspada untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Malam itu, pelaku yang berniat jahat muncul istri dan teman perempuannya. Setelah serangkaian upaya membela diri, sang suami selamat, sementara istri dan temannya tewas. Pagi harinya semua nampak baik-baik saja, seolah tak pernah terjadi apa-apa di rumah itu. Sang suami akhirnya membuka pintu pagar. Ia berdiri di ambang batas antara area teras rumahnya dengan jalanan demi berbincang dan berterima kasih kepada sang loper âLoperâ yang menjadi official selection Ganffest 2014 secara tersirat sudah mengamini argumen Damar. Sekalipun berdiam diri dalam lingkaran masing-masing membahayakan bagi keberlangsungan dan perkembangan individu dan komunitasnya sendiri, pola tersebut masih tetap menggejala di skena komunitas film Membara, Minim RencanaKesamaan minat pada film merupakan alasan utama dari terbentuknya komunitas-komunitas ini. Di samping itu, adapun alasan profesional, misalnya pada mahasiswa kampus jurusan film dan rumah produksi. Minat âpassionâ adalah bahan bakar untuk memulai dan menggerakkan tentu minat saja tidak cukup. Damar misalnya membuka diskusi mengenai banyaknya pegiat yang âberguguranâ dari komunitas, serta komunitas atau kegiatan yang âgulung tikarâ lewat sebuah pertanyaan âapakah memang naturnya seperti itu, atau itu mismanajemen?â. Sementara Malikkul mewanti-wanti bahwa komunitas tidak bisa hanya mengandalkan âseru-seruanâ saja, karena dalam pengelolaan diperlukan komitmen dan kemampuan manajerial. Ia menambahkan, komunitas akan sulit dikelola jika hanya mengandalkan sisa waktu luang dari membandingkan pandangan dari Damar dan Malikkul dengan pola regenerasi di skena komunitas Bandung, ada benang merah. Dalam konteks pegiat komunitas film dari kalangan mahasiswa, beberapa tidak melanjutkan beraktivitas di komunitas setelah menamatkan studinya. Orang datang silih berganti di komunitas kampus. Ketika pelajar tersebut sudah terjun ke dunia kerja, maka tuntutan untuk berkomitmen pada komunitas menjadi semacam beban ganda. Tidak sedikit pula pegiat komunitas Bandung yang lantas memilih untuk berpindah ke Jakarta karena alasan pekerjaan, baik masih dalam ranah yang berkaitan dengan perfilman maupun bidang yang berbeda. Ibukota, yang hanya berjarak dua jam dari Bandung, masih dianggap lebih âmenjanjikanâ.Malikkul maupun Deden adalah pengurus dari Bandung Film Commission BFCâkomisi film daerah yang juga berfungsi sebagai penghubung komunitas-komunitas di Bandungâyang berdiri Maret 2019. Meski demikian keduanya menyadari bahwa BFC belum berfungsi maksimal sebagai âhubâ penghubung antarkomunitas karena lembaga sendiri tidak memiliki pendanaan dan pengurusnya tidak bisa total mencurahkan waktu dan fokus lantaran â⊠masih sibuk dengan periuk nasi nasing-masingâ. Rentang MitraEkshibisi / FestivalDari 10 kota, survei menemukan komunitas yang berfokus pada aktivitas ekshibisi berhasil menggaet beragam institusi di luar lingkaran komunitas film. Perusahaan atau institusi swasta adalah mayoritas kolaborator bagi komunitas penyelenggara pemutaran festival dan non-festival. Pemerintah ada di peringkat kedua, yang kemudian disusul oleh komunitas akar pengamatannya, Malikkul berusaha menjabarkan âkekeliruan manajerialâ yang kerap terjadi dalam pengelolaan komunitas. BFC pun bukan pengecualian. Manajemen komunitas terlalu bertumpu pada âpassionâ dan momen-momen âeventualâ. Pada praktiknya, komunitas bekerja secara impulsif sporadis, serta tidak memiliki visi jangka panjang berkesinambungan. Perencanaan termasuk rencana pelaksanaan, sistem kerja, strategi, serta nilai dan target tidak terjelaskan. Dan terakhir, minimnya orang yang berkomitmen menyayangkan disfungsinya lembaga yang dibentuk guna menghubungkan dan mewadahi komunitas-komunitas film di Bandung. Ia mengingatkan, jika lembaga representatif gagal menjadi âpayungâ yang menaungi, maka akan membuat komunitas-komunitas di bawahnya, pada akhirnya tetap berusaha contoh kasus Kedai Cas, dari contoh kasus BFCâyang pengurusnya rata-rata adalah âperwakilanâ dari komunitas-komunitas di Bandungâiktikad untuk saling terhubung satu sama lain pun tidak cukup akibat ketiadaan âlogistikâ dana dan ruang fisik yang dapat dijadikan ruang aktivitas bersama di lokasi strategis. Seperti yang digelisahkan Deden â⊠logistik gak ada cuma mengandalkan semangatâ. Aktivitas pada skala kecil mungkin terselamatkan lantaran dana bukanlah faktor dominan. Di sini modal sosial akses pada sumber daya manusia dan jejaring lebih penting. Namun, âpada skala kerja yang lebih besar dan mutakhir, tidak bisa tanpa danaâŠâ, demikian menjadi lebih pelik pada komunitas di luar kampus. Pada satu pihak, komunitas dituntut untuk mampu membiayai operasionalnya. Di saat bersamaan, para pegiatnya mesti membiayai ongkosâtidak hanya uang, melainkan juga waktu dan tenagaâketerlibatannya dalam aktivitas komunitas. Padahal, pertama-tama, pegiatâkhususnya mengacu kepada mereka yang sudah bekerjaâmesti pula mencari nafkah untuk kebertahanan kehidupannya. Tidak mengherankan jika banyak mahasiswa yang berhenti dari aktivitas komunitas ketika sudah terjun ke dunia kerja. Dari sini dapat dipahami mengapa ada pola âcome and goâ.Lebih lanjut, keterputusan juga menggejala di skala yang lebih besar yakni antara komunitas dengan pemerintah. Di titik ini, BFC berada pada posisi yang tidak mudah karena sekalipun memosisikan diri sebagai âkonektorâ penghubung, mediator posisi tawar yang dimilikinya relatif rendah. Kebijakan, termasuk juga pendanaan dan fasilitas, yang disediakan oleh pemerintah kerap kali tidak tepat guna. âPemerintah lack of knowledge and less inisiative ⊠pemerintah kurang mendengarkan komunitas ⊠tidak sesuai kebutuhan karena tidak minta saranâŠâ, demikian kekecewaan Malikkul. Keresahan lainnya muncul dari Yustinus perihal ketidakmerataan dukungan material dari pemerintah. Hal ini terjadi karena keterbatasan pengetahuan pemerintah terhadap kondisi skena, sehingga menimbulkan âkesalahpahamanâ. Pemerintah dianggap âmesraâ dengan komunitas-komunitas tertentu saja. Strategi KomunikasiSeiring dengan tingginya penetrasi media digital di Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, media sosial dan aplikasi pesan singkat menjadi dua medium utama yang digunakan dalam memasarkan acara pemutaran Memisahkan, Internet MenyatukanPandemi COVID-19 telah mengubah kondisi skena komunitas film di Bandung. Berbagai komunitas, terutama komunitas berbasis kampus, memindahkan aktivitasnya ke ruang virtual. Festival film seperti Ganffest 2022 diselenggarakan secara daring, sedangkan BIFF menunda waktu penyelenggaraannya selama setahun menjadi Juli 2022. Sejumlah kegiatan pemutaran alternatifâtermasuk lembaga swasta yang bekerja sama menyediakan ruangan pemutaranâ berhenti beroperasi akibat pandemi. Bahkan ketika pandemi sudah terkendali dan berbagai kegiatan luring kembali dimungkinkan, bioskop alternatif seperti Indicinema masih belum aktif kembali. Secara kontras, seperti yang dituturkan Deden, pandemi telah membuat rumah-rumah produksi justru kebanjiran tawaran pekerjaan. Tingginya permintaan akan konten audio-visual seiring dengan semakin masifnya aktivitas di dunia digitalBeberapa tahun terakhir, dan kemudian mencapai puncaknya ketika pandemi, memperlihatkan bagaimana media sosial dan algoritma memiliki andil signifikan dalam menyebarluaskan informasi pemutaran alternatif. Sinerame yang dimulai per Juli 2022 menunjukkan tren baru, yakni kehadiran penonton dari kalangan umum bahkan berasal dari luar Kota Bandung yang mengetahui kegiatan pemutaran film lewat informasi internet. Agaknya tidak beroperasinya bioskop berjaringan di pusat-pusat perbelanjaan untuk waktu yang relatif panjang akibat pandemi telah menggeser kebiasaan penonton. Ketersebaran film-film alternatif di internet membuat khalayak melirik tayangan film di luar bioskop arus dari konsekuensi yang dibawa oleh algoritma, internet mengeksplisitkan cara kerja jejaring menghubungkan dan menyinkronkan hal-hal yang sebelumnya terpisah. Komunitas-komunitas Bandung yang cenderung terpisah-pisah, berkutat dalam lingkarannya masing-masing, dan tidak sinergis barangkali perlu mereorientasi cara kerjanya. Komunitas sendiri menyiratkan adanya keterhubungan kolektif antar pihak secara sinergis, termasuk pemerintah sebagai pemangku kebijakan. Dalam mengupayakan keterhubungan dan kesinambungan, kemampuan untuk melihat relevansi mutlak diperlukan dalam berkomunitas maupun berkarya; bahwasanya berbagai hal saling terhubung, memengaruhi, dan berdampak. Karya-karya pilihan Kota Bandung
rumah produksi film di bandung